pelindungnegeri.my.id,Batam – Warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar, kembali menggelar rapat evaluasi pasca aksi unjuk rasa terkait krisis air bersih yang terjadi di wilayah mereka. Rapat tersebut dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2025, dan menghadirkan perwakilan warga dari sejumlah RW terdampak.
Rapat evaluasi ini dipimpin langsung oleh Koordinator Lapangan Aksi, BPK Syamsuddin (S). Dalam forum tersebut, Syamsuddin menanyakan perkembangan distribusi air bersih di masing-masing wilayah pasca aksi demo yang sebelumnya telah dilakukan.
Salah seorang warga RW 03 menyampaikan bahwa kondisi udara hingga kini masih belum normal. Ia mengaku air masih sering mengalir pada dini hari.
“Masih belum normal, kadang baru hidup jam dua malam,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga dari RW 02. Dikatakan, pada hari sebelumnya air juga baru mengalir sekitar pukul 02.00 WIB.
Secara umum, warga menilai kondisi udara di Tanjung Sengkuang belum sepenuhnya pulih. Sebagian wilayah memang sudah mulai mendapatkan aliran air pada siang hari, namun sebagian lainnya masih hanya menerima aliran pada malam hari. Apalagi warga RW 05 Menyebutkan hingga kini air belum mengalir sama sekali.
Selain bantuan itu, warga juga mengeluhkan kualitas air dari mobil tangki. Salah seorang warga menyatakan bahwa udara yang diterima berwarna kuning dan tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari.
“Airnya kuning, tidak layak dikonsumsi. Bagaimana mau dipakai untuk mencuci beras dan memasak,” tegasnya.
Warga juga menyoroti kondisi meteran udara yang tetap berjalan meski udara tidak mengalir. Hal ini dinilai sangat merugikan dan mempermalukan masyarakat.
Tak Ada Ampun! 500+ Knalpot Brong Digilas Polisi di Sintang, Balap Liar Dinyatakan Perang
Dalam rapat tersebut, warga sepakat akan kembali menggelar rapat evaluasi kedua dalam waktu dekat guna melihat sejauh mana perkembangan penanganan masalah air bersih di wilayah mereka.
Warga berharap Pemerintah Kota Batam bisa lebih serius dan responsif dalam memenuhi serta memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, mengingat air merupakan kebutuhan vital yang tidak bisa ditunda lagi.
Sementara itu, penanggung jawab aksi menyatakan bahwa aksi unjuk rasa yang dilakukan sebelumnya murni merupakan aspirasi warga dan tidak ditunggangi oleh pihak mana pun.
“Dalam demo kemarin, tidak ada yang menunggangi. Fakta di lapangan jelas, udara tidak mengalir dan warga harus disuplai dengan tangki. Tapi sekarang muncul berbagai opini seolah-olah aksi itu ditunggangi,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan adanya aksi tersebut seharusnya Pemerintah Kota Batam dan pihak BP Batam dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan air bersih kepada masyarakat.
“Ini kebutuhan vital masyarakat. Kalau tidak terpenuhi, tentu warga akan terus bersuara,” tegasnya.(Tim)

